Salma – beyond the understanding-

jum`at, 1 Februari 2008
seolah sudah menduga tapi akhirnya meledak juga. tangis itu tak terelakkan. sepupuku, Salma, kelas 6 SD, agak gendut (karna pengaruh pengobatan), manusia yang dari mulutnya tidak pernah keluar satu katapun keluhan, anak kecil yang dari dirinya, aku bahkan ratusan orang yang umurnya gak bisa lagi dihitung dengan 6 tangan , banyak melihat kehidupan yang sebenarnya, akhirnya dijemput untuk kembali ke Sang Pemilik.

setahun yang lalu….
semua berawal hampir setahun yang lalu, tiba2 Salma dan keluarga Solo sampai ke rumah, waktu aku tanya, bulek (ibu Salma) hanya berujar, “salma sakit , tadi barusan dari Sardjito, priksa”. mmm..sedikit khawatir karna wajah salma menunjukkan hal2 yang bikin kita mikir gak enak. asli , pucat…pucatnya pucat jelek gitu. tapi salma cuman tersenyum sambil sesekali membetulkan poni sampingnya. ketika ku pegang dahinya…agak anget seeh..tapi lagi2 Salma cuman tersenyum…

beberapa bulan kemudian..
salma di rawat di Sardjito. makin ngrasa gak enak, karna Mbahlek Umi , datang menjenguk tapi gak tega untuk melihat kondisi salma. waktu itu aku sesekali datang membawakannya Tintin atau komik gober kesukaannya. dan dia hanya tersenyum. sampai akhirnya ibu cerita…”Salma kena kelainan gen darah, tapi belum ketahuan apa, harus ditransfusi..” . aku tanya, “leukimia bu?” , ibu cuman menjawab, “belum tahu..”

dari cerita yang aku dengar, ternyata sudah sejak lama Salma merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. tapi, lagi-lagi, tidak pernah keluar satu kata “keluh” dari bibirnya. di kelas, salma termasuk anak pintar, ranking 1, bahkan ketika hari-harinya dihabiskan di rumah sakit, di akhir semester dia tetap jadi juara kelas. terakhir, Salma sampai kesulitan membaca tulisan di papan tulis padahal sudah duduk di bangku paling depan.

bulan-bulan berikutnya, Salma masih harus bolak-balik rumah sakit. sampai akhirnya dokter memvonisnya terkena leukimia. bahkan, dari cerita yang aku dengar, dokter sudah angkat tangan, dan transfusi darah hanya satu-satunya cara membuatnya tetap bisa hidup, selain keajaiban tentunya.
dan begitu seterusnya, setiap kali pucat, ke rumah sakit, transfusi darah.
satu hari, pernah di sekolahnya diadakan outbond. Salma dilarang Bulek untuk ikut, jelas, kondisinya tidak memungkinkan. namun, salma ngotot ikut…” aku mau ikut outbond, kalo nggak , aku gak mau tranfusi darah lagi..” namun, akhirnya dia hanya bisa duduk memandangi teman2nya bermain di lapangan terbuka, naik jaring, naik tangga berlari2 mengikuti outbond.
kebiasaan yang melekat di akhir hidupnya, salah satunya membuatku hanya terbengong malu. Salma termasuk anak yang rajin mencatat semua sholat yang belum dia lakukan, entah karna ketiduran atau lupa. padahal salma belum Haid, artinya belum punya kewajiban untuk sholat 5 waktu, belum menanggung dosanya sendiri. tapi dia punya catatan kecil semua sholat yang nanti akan dia bayar (di Qodho`).
satu lagi, setiap hari ada anak penjual onde-onde kecil lewat rumahnya. setiap kali lewat, dagangan si anak pasti masih banyak, anak penjual itu terlihat malu2 setiap kali menawarkan dagangnnya. sejak pertama kali Salma melihat penjual onde2 kecil itu, dia pasti ngotot minta ibunya minta dibelikan onde2 kecil. minimal 5000 perak. setiap kali melihatnya, Salma harus membelinya. setiap kali langkah penjual onde2 kecil itu terdengar, Salma akan merengek untuk membelinya. harus.

Idul Qurban
satu hal yang lucu di waktu-waktu terakhirnya. waktu itu Idul Qurban, biasanya di SOlo, di pondok pesantern tempat simbah, potong hewan kurban dilakukan beramai-ramai, riuh anak2 kecil berlari2 di lapangan melihat sapi dan kambing seolah2 kebun binantang pindah di halaman rumah mereka. waktu itu Bulik memang men-jatah kurban tahun ini untuk Salma. ketika Salma tahu, dia bilang, ” bu, besok qurbannya yang besar ya, buat tumpanganku di Surga, aku kan Gendut bu, jadi hewannya harus yang besar”, ujarnya polos. ya, sejak sakit, Tubuhnya memang berangsur besar pengaruh obat-obatan dan puluhan kali transfusi.
acara potong2 kurban berlangsung meriah, tapi seolah berhenti ketika Salma tiba2 tak sadarkan diri dan kembali masuk rumah sakit, tapi kali ini bukan di Sardjito tapi di Yarsis, Solo.

Rabu, 30 Januari 2008
untuk yang kesekian kali, Salma tak sadarkan diri, dan harus transfusi lagi. kali ini, badannya sudah menghitam, tanda dia sangat kekurangan darah. selesai transfusi darah di bilang, “bu, habis ini udah ya trnasfusi darahnya, ini yang terakhir, salma gak mau lagi”. dan bulek hanya tersenyum. masih di rumah sakit, Salma juga berujar, ” bu, mbah Purwokerto (eyangnya-red), mbok disuruh kesini, aku pengen ketemu” atau ” bu, mbak nina karo mbak Nisa (kedua kakaknya yang masuk asrama) , disuruh pulang aja bu”.

hari kamisnya, dia teringat salah satu keponakannya Amhar, akan berulangtahun di hari Jumat. Salma ngotot beli kado untuk keponakannya itu. akhirnya dibelilah sebuah kado lengkap sudah dibungkus, “kadonya buat Amhar”, ujarnya.

jum`at, 1 Februari 2008 pagi….

Salma tak sadarkan diri. kembali di bawa ke Rumah sakit.
16.00 Ba`da Ashar..
aku mengirim sms ke beberapa nomer keluarga…

Innalillahi wa Inna ilaihi Raajiun..
telah berpulang ke Rahmatullah
Salma, Putrinipun Lek Ngid,
Mangkuyudan , Solo. hari ini
jam 15.00

Sabtu, 2 Februari 2008
………
Salma kecilku, kayaknya kamu bahagia ya ada disana…mmm..jadi iri…

4 thoughts on “Salma – beyond the understanding-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s