tak semua jawaban butuh penjelasan….

Stasiun Cawang, 14 Feb 2009, 15.45

sore itu, sesaat setelah menuruni tangga dari fly over menuju stasiun cawang, aku layaknya ayam yang kehilangan induknya, tak tau mau kemana dulu, atau tak tau harus bertanya pada siapa. sore ini lain. semua orang masih sibuk dengan langkah kakinya masing-masing. agak menyesal kutinggalkan linda di kosan, hehe, bukan apa2, selain  si ifan yang cuma  mau mengantarku sampe cawang, aku juga sedang ingin  sendirian. mempertanyakan pada tuhan, atas apa yang terjadi 2 bulan ini. ini bukan diriku…entahlah, aku merasa aku sedang berada di dimensi lain, yang pasti sekarang ini bukan diriku.

Depok atau Cibinong? kulipat-lipat tiket KRL-ku di tangan, tiket seharga 1500 itu sudah seperti tiket hari kemaren, lecek karna dari tadi kulipat2. aku masih belum memutuskan akan ke depok atau cibinong. yang pasti aku hanya ingin bergerak, menjauhi cakar-cakar langit jakarta yang membuatku tidur tanpa mimpi belakangan ini, dan menurutku tidur tanpa mimpi berasa hambar, gak ada hiburan. payah!

sudah dua KRL ekonomi lewat, aku masih mengabaikannya. selain penuh, aku juga masih belum tau akan turun dimana. akhirnya, layaknya anak kecil yang bingung, aku main suit. sendirian. tangan kanan dan kiriku. ah, ternyata menang tangan kiriku, yang berarti aku ke Depok. oke…ke Depok.

cawang beranjak sepi, kumpulan manusia2 tadi sudah naik dua kereta ekonomi di depan. aku sendirian, di bangku besi panjang berwarna hijau yang mulai berkarat, ditemani pedagang kaki lima yang sedari tadi diam menatap fly over di atas stasiun. ah, mungkin dia sedang merancang hari esok, atau memikirkan kelanjutan sinetron tadi malam. entahlah. yang pasti aku sendiri tak tahu apa yang ada dipikiranku. tiba-tiba, dering sms berbunyi, sebait kata itu membuatku semakin ragu untuk melanjutkan perjalanan ke Depok, karna tiba2  aku ingin naik KRL ke Gambir saja dan diteruskan naik kereta senja ke Jogja. bodoh! kau belum setahun disini kawan, mana boleh kau cuti.

“maaf aku sibuk. sedang apa? istirahat kah?”

sms kututup, tanpa kubalas. KRL ekonomi datang, aku naik, tanpa peduli  semua orang di kereta itu mengeluh karna penuh.sesak.panas. ah, biarlah… ku tak peduli. gelap, penuh, dan tiba2 saja mata ini berkaca2 dan tumpah…deuh. menangis! cengeng!

cepat2 aku hapus tetesan yang bikin malu itu. bukan malu pada orang-orang. tapi inget umur. lagipula KRL ekonomi sore itu agak gelap, jadi mau aku nangis-nangis bombay, orang-orang tak akan peduli. ah, jakarta, bisakah kau jelaskan padaku, keangkuhanmu selama ini???

kereta merayap, memasuki Lenteng Agung, tiba2 kereta berhenti untuk waktu yang tidak wajar, sudah hampir setengah jam kereta berhenti. orang-orang disekitarku mulai menerka2. macet? listrik mati? ban bocor? kereta mana ada ban-nya dodol…!!! orang-orang mulai keluar. aku tak peduli, dimaki2 karna berdiri di tengah gerbong. aku hanya ingin diam. berdiri sendirian dan tak ingin diganggu. tiba-tiba dering sms berbunyi  lagi,

“lagi dimana? mau membicarakan hal serius”

kali ini, masih hilang keinginan untuk membalas sms-nya. entah.

Beliau

Yang kutahu hanya namanya. wajahnya saja lupa, yah, sesekali kalo dipaksa ingat, jadi inget seeh. oia, satu lagi, aku juga punya nomer hp-nya. itu saja.

Margo City, dibelakang gedung, 15 Feb 2009, 17.15

Suara di ujung telepon

“ya sudah berarti…begitu..sudah jelas”

beliau menjelaskan panjang lebar. mengemukakan bermacam alasan yang menurutku cukup rasional.

“kalo sampeyan gimana?”

aku diam…lama…, dan keluar jawaban, “sebenarnya , nggak”

“kenapa”, tanyanya, dengan nada yang sungguh menginginkan jawaban

“gak tau…”

dan kami diam. dan tiba2 kuingat ibu. bapak. wajah mereka silih berganti.

sejak itu, aku tersadar, apa yang dikatakan Moh. Sobary dalam novelnya  “Sang Musafir” agaknya benar.

Tak semua jawaban butuh penjelasan.

Senin Pagi, 16 Feb 2009

Kereta Ekspress Tanah Abang, melaju cepat. tanpa kusadari,  aku sudah berdiri sejak tadi, tanpa pegangan, sembari diam sambil memandang kumpulan tulisan dalam buku Moh. Sobary yang dari kemarin kubaca. pagi ini aku tak membacanya, hanya menatap huruf perhuruf  tanpa peduli maknanya. jiwaku entah kemana. beku.

tanpa kusadar, aku turun bukan di Cawang, tapi di Gondangdia. kemana saja aku ini, cawang sudah terlewat dan ku diam saja. kutatap jam tangan, masih pukul 07.00, kantor buka jam 08.00. kulangkahkan kembali kakiku berbalik arah di pemberhentian seberang, menunggu kereta balik berikutnya menuju Cawang. masih tanpa rasa.

4 thoughts on “tak semua jawaban butuh penjelasan….

  1. oowwwhhhhh….
    ya meski gak semua jawaban butuh penjelasan, pasti banyak hikmah dah kebahagiaan yang menantimu sayy…..
    sabarrr ya sayyy….
    muacchhhh

  2. “Tidak semua jawaban, butuh penjelasan.”
    Hm.. agaknya tepat untuk seseorang yang sudah mengenal kita dengan baik. Bagi yang belum mengenal kita dengan baik.. Sepertinya kurang tepat.

    Sabar ya,mbak.
    Tidak ada yang luput. Hanya belum saatnya. Skenario Allah itu “indah pada waktunya”.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s