(Masih) Belum Paham Benar Tentang Kota Ini

Ah, saya benar-benar tidak mengerti dengan kota ini, sungguh.

Jadi ceritanya begini.

Sabtu Minggu  kemarin, dan seperti weekend2 saya sebelumnya (kalo pas gak dapat jatah masuk kantor), saya selalu menyempatkan menginap di rumah kakak di Bogor. Lumayan, sekaligus buat jadi ajang pengiritan buat saya anak kos yang belum punya nopek di perusahaan :p. Setiap kali kesana saya selalu menggunakan jasa transportasi KRL, which is meskipun sudah berkali-kali naik tetap saja ada kendala, entah saya nyasar, telat naek kereta, atau ketiduran di kreta dan berakibat saya kebablasan. Eh tapi ceritanya bukan tentang itu (lagi). Jadi, Hari Minggu sore saya memutuskan untuk balik lagi ke Jakarta, tidak seperti biasanya naek kereta jam setengah Sembilan malam, kali itu saya pake kereta jam 6 sore (mumpung pas lagi gak puasa heheheh). Dan karena saya ketinggalan kereta ekspress, jadilah saya naik KRL ekonomi.

Entah kenapa rasanya kali itu saya seperti baru pertama kali naek KRL ekonomi (padahal sebelum2nya sering jugaa). Entah kenapa saya jadi miris ngliat anak2 kecil mengemis dengan cara menyapu lantai kereta dengan sapu lidi, berbaju lusuh dan tnpa alas kaki, benar2 kayak korban kelaparan di Afrika sana T.T sungguh, saya tidak sampai melihatnya, alhasil saya cuman bisa memejamkan mata dan larut dalam pikiran saya sendiri… …

Berikutnya silih berganti, orang-orang peminta-minta, orang-orang jualan mulai dari minuman, aksesoris, telur ayam kampong (palsu, asli palsu, saya pake kasat mata aja bisa tau kalo itu telur ayam biasa yang dikasih warna jadi kayak telur ayam kampong dan dijual 2000/3biji…aje gilee) sampe jualan kursi rotan dan lemari kayu (kali ini saya benar2 heran, gimana caranya tu lemari dan kursi segede gaban bisa masuk ke gerbong kereta yang penuh sesak orang). Oke, sampe disitu saya cuman bisa memjamkan mata.

Begitu turun dari stasiun…hmmmm

Saya selalu melihat dua orang itu, sudah lama disitu, Tepat di depan Stasiun gambir. Setiap kali malam beranjak datang, mereka berdua selalu disitu. Si Suami, mendorong gerobak penuh barang-barang bekas yang sudah di rapikan ke pinggir tanda Rambu jalan S dicoret, sementara si Istri menata kardus2 bekas untuk dijadikan alas tidur. Menit setelahnya, si Istri membuka nasi bungkus, hanya sebuah dan kemudian dimakan berdua dengan sang suami, sebungkus berdua. Entah saya terharu karena melihat mereka begitu setia meskipun hidup beralaskan trotoar dan beratapkan langit, ataukah karena saya ikutan lapar? Yang pasti saya selalu miris ketika melewatinya. Dan pernah ketika shubuh belum menjelang (saya yang waktu itu buru2 naek Damri ke Cengkareng) , saya melihat mereka berdua lagi, kali ini jam 4 pagi makan sebungkus berdua lagi.

Duh Gusti, diantara gedung2 tinggi ini, diantara mobil2 mengkilat yang selalu lewat…(tak jarang RI-1 atau RI-2 lewat jugaaa …) apa iya saya harus melihat mereka disitu terus, hidup disitu terus. Rasanya ingin bilang..”sudahlah pak bu, pulanglah ke kampungmu, paling tidak masih bisa melihat keindahan disana, dibandingkan gedung2 tinggi yang angkuh ini, agaknya lebih membahagiakan melihat hijaunya sawah dan suara riuh anak2 kecil bermain gundu.

Hmmm….

5 thoughts on “(Masih) Belum Paham Benar Tentang Kota Ini

  1. “anak2 kecil mengemis dengan cara menyapu lantai kereta dengan sapu lidi, berbaju lusuh dan tnpa alas kaki, benar2 kayak korban kelaparan di Afrika sana T.T”

    ^ curhat tentang masa lalu ya non?? huahahahaha… bedanya bukan “kayak korban kelaparan di Afrika”, tapi “korban kelaparan di Afrika” (tanpa kayak).. :p

    • tinggal menunggu waktu Bo.
      itulah sebabnya saya selalu merengek…”tempatkan saya di daerah saja paaak…daerah Istimewa Yogyakarta”..
      hihihihi :p

  2. Setuju…
    Tiap kali (baru dua kali sih) pulang futsal d Grand Kuningan, trus jalan kaki lewat d sebelah Kuningan Building, ada seorang Bapak duduk d trotoar dan anaknya yang tertidur lelap d pangkuannya. Entah apa yang ad d mimpi anak itu…

    Dan yang bisa ak lakukan hanya memalingkan muka dan mendoakan masa depan yang lebih cerah buat anak itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s