Batik dan Pekalongan, Saudara Sekandung :)

Setiap kali saya merasa bosan dan jenuh,  itu tandanya saya harus segera keluar dari Jakarta, pergi sebentar untuk sekedar melepas penat dan menyegarkan pikiran. Jujur, saya termasuk pengikut paham “tidak suka Jakarta” hehee, entah kenapa tidak pernah muncul dalam benak saya akan tinggal dan menetap disini, secara kotanya..hyaduuh..macet dan ‘gersang’.

Hampir sebulan yang lalu saya akhirnya memutuskan untuk melancong sejenak ke Pekalongan, salah satu kota di pesisir pantai utara. Saya kangen ponakan-ponakan lucu saya disana. Hehe. Yak, saya punya dua kakak yang tinggal di Pekalongan, kakak nomor 4 dan 5, semuanya mengikuti tugas sang Suami di sana. Keponakan saya ada 3 –hampir 4, yang satu masih di perut- disana,  semuanya lucu-lucu dan menggemaskan. Suara dan celotehan mereka yang bikin saya kangen. Hohohoho.

Jumat malam, saya berangkat naik Senja Semarang menuju Pekalongan dengan tiket seharga 120.000 rebu, seharusnya jadwal tiba di

Pekalongan sekitar jam 1 malam, tapi kereta yang saya tumpangi tiba jam 3 malam😦 , uh. Tapi tetap tidak mengurangi keseruan saya disana. Hari pertama, karna saya nyampe pagi, saya ketiduran di rumah sampe siang, jam 9 pagi saya baru Bangun dan ponakan-ponakan saya yang lucu2 itu sudah keburu berangkat sekolah duluan, huaaa “lek afi ditinggal”..ba`da dhuhur, para keponakan baru pulang sekolah. Huaaa heboh sekali ^^. Kami main-main sebentar untuk kemudian saya dan ponakan makan kepiting rebus sepanci. HAHAHAHHAA. yak, karena rumah ada di daerah pesisir, adalah hal biasa seafod dijual lebih murah disini, tadi pagi saja kakak saya beli kepiting se-ember *astaga* dan saya habiskan bareng ponakan. wkwkwkw.

Para Keponakan yang selalu Bikin Kangen😆

Kepiting se ember yang dimasak jadi sepanci😀

Sorenya, kakak saya mengajak buat hunting batik di salah satu butik di sana😆 hoooo benar-benar menggoda iman… saya sempat beli 1-2 batik dengan harga cukup miring *nyahahahaha, bangga kalo dpt harga miring* secara ya saya liat batik dengan merk yang sama ketika di jual di mal2 jakarta, harganya bisa naik hampir 2-3 kali lipat. Hihihih, sayang saya ndak ada bakat jualan, jadi mending saya beli buat saya sendiri dulu :p

Minggu Pagi, ponakan rame-rame mengajak saya ke Pantai dekat rumah sebentar😀 and I Always like the smell of beach, hihihihi..

3 'monster kecil' di pinggir pantai🙂

Lengkap 2 keluarga! *minus Mas Tamam🙂

Setelah foto-foto sebentar di Pantai, kami lanjut ke Tujuan Utama hari ini…Museum Batik… hohohoho. Senangnyaaah! Baru kali pertama saya ke Museum batik. Sebenarnya di Jogja ada juga museum batik, tapi seumur2 saya tinggal disana, belum pernah yang namanya nengok kesana, even berkali2 saya sliwar sliwer di depan museumnya😀 hehehe. Museum Batik Pekalongan letaknya pas ditengah kota, di samping alun-alun, kalo naik becak dari rumah kakak saya yang di pesisir pantai bayarnya 10.000 sahaja. Waktu kami kesana, museumnya sepi, padahal itu hari minggu. Ketika masuk kami langsung di sambut guide mbak-mbak imut nan cantik,. Hihihi, oia harga tiket masuknya 5.000 untuk dewasa dan 3.000 rupiah untuk anak-anak. Sayangnya ketika masuk ke bagian koleksi Batik, kita dilarang motret, huuhuhu padahal batiknya bagus2 banget >,<. In the end of muter2 ruang museum, sampailah kami di ruang workshop, dan ini bagian serunya, kami mau mbatik sendiri! Horraaay!!! Tiga ponakan saya memilih mewarnai batik saja, sementara saya –dengan Pedenya- memilih untuk mbatik sendiri.

Ruang Workshop Museum Batik

Ternyata eh ternyata, membatik itu susah sekali temans… hiks, saya pikir gampang, ternyata cara memegang canthing (alat membatik untuk meletakan malam pada kain) dan posisi tangan kita mempengaruhi kualitas gambar. huh. susah betul. belum lagi malam yang panas beberapa kali menetes ke jari saya. belum lagi proses pewarnaan yang berkali-kali… hooooooo ribet. Saya jadi maklum kalo batik itu mahal, prosesnya aja puaaanjang dan lebar kali tinggi sama dengan Volume. -_-! heheh. *oia foto hasil batiknya saya upload nanti ya, ketinggalan masih ada di hp*

Saya jadi tau bedanya batik tulis, batik cap, atau batik sablon. Saya jadi tau proses pewarnaan dan bagaimana membatik dengan malam. yang pasti saya jadi makin cinta sama Batik🙂 dan tentu, perjalanan saya kali ini cukup bikin fresh otak saya ^^, jadi gak sabar dengan jalan-jalan saya selanjutnya, hihihihi.

*thx to mbak Ipah dan mbak Iis🙂

2 thoughts on “Batik dan Pekalongan, Saudara Sekandung :)

  1. Itu deket rumah kan ada produksi batik juga Fie.. **ngiklan sogan maksud e hahahaa…
    bisa ikutan mbatik juga n bikin2 handkerchief dengan hasil batikan lek Afie…

    ps :: disana ada mba Ipah juga **ralat mba Iffah ding hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s