Mampet Ide-Cerita Tentang Jakarta Saja

Semalem saya sudah bertekad mau menulis postingan disini. Saya sudah wudhu, duduk nyaman, nyetel musik klasik nan menenangkan. 5 menit pertama saya bengong. 10 menit berikutnya saya masih bengong. Tulisan saya akhirnya beralih ke file diary saya. File pribadi itu bertambah 2 halaman penuh. Pemanasan. lanjut saya buka file word baru. Dan masih belum tahu mulai menulis dari mana. Padahal begitu banyak hal yang mau saya tulis.

Tentang Ramadhan saya, yang tiap minggunya entah kenapa saya selalu gatel pengen ketemu anak-anak panti Asuhan. Tentang Mudik saya ke Jogja yang penuh dengan hingar bingar silaturahim keluarga besar. Tentang eksperimen saya bermain jilbab yang bosan dengan gaya-gaya itu saja. Tentang keinginan saya punya sepeda (beneran) untuk saya bolak-balik kantor-kos. Tentang Bu Bos saya yang selalu menginspirasi. Pun Saya masih punya utang posting di blog PagiBerbagi.

Saya mau cerita tentang Jakarta saja.

Pas saya berangkat ke Kantor Pagi tadi, entah kenapa terbenak di pikiran saya, ternyata saya bisa sejauh ini. Ternyata saya bisa lho bertahan “lumayan” lama di Jakarta. Kota yang dulu saya benci. Kota yang dulu tak ada keinginan tinggal, jalan-jalan, nongkrong di jalanan nya. Hampir dua tahun saya disini. Hebat! hahahaha. padahal dulu 6 bulan saja saya sudah gak betah. Bulan ke 4 pertama di Jakarta di tahun 2008 sudah membuat saya pengen cepat-cepat melangkahkan kaki keluar dari kota ini. Begitu masuk perusahaan saya yang sekarang di tahun 2009, pelan-pelan awalnya saya tidak berasa di Jakarta. di karantina selama hampir 4 bulan, bersama teman-teman dari berbagai daerah, membuat resistensi saya terhadap jakarta lama-lama melemah. Saya mulai terbiasa dengan jalanan Jakarta. Saya mulai terbiasa dengan gelombang manusia yang tak habis-habis. Teman-teman sayalah yang menguatkan saya. Teman-teman sayalah yang membuat saya memandang Jakarta dari sisi lain. dan saya terkejut ketika beberapa waktu lalu di Jogja, mendadak hati saya rindu Jakarta. rindu kamar saya. dan rindu keriuhan jalanan Jakarta. Meski kerinduan itu saya tepis jauh-jauh kemudian.  ah, Jakarta.

Seandainya saya tak di jakarta, mungkin saya tidak sadar betapa nyamannya Yogyakarta. Seandainya saya tak di Jakarta, saya tidak akan pernah berani nonton film di bioskop malam-malam sendirian dan ketakutan naik taksi sendirian. hahahaha. Seandainya saya tak di Jakarta, mungkin saya akan makin menggemuk, karena di Jakarta saya lumayan sering jalan kaki, at least di mall. hahahah. Seandainya saya tak di Jakarta, saya tidak akan keliling tiap Sabtu Pagi aksi @PagiBerbagi sambil reunian sama teman-teman lama saya di Jogja. Jika Saya tak di Jakarta, saya tidak akan belajar untuk tidak menjadi manja lagi.

Ah, Jakarta. Terima Kasih🙂

2 thoughts on “Mampet Ide-Cerita Tentang Jakarta Saja

    • nyambung kok mbak :p
      Kalo kata tukang bubur pojokan Masjid: Jakarta tak selamanya Indah *yaeya laaah..kagak ada indah2nya*😆 HAHHAHAHAHAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s