Bu Bos dan Saya

Sejujurnya saya bingung ngasih judul postingan yang satu ini. Sudah kepikiran dari seminggu yang lalu untuk nulis tentang bu Bos saya, tapi seperti biasa, pikiran saya suka melompat-lompat, jadinya saya peringatkan, mending kalo takut bosen ndak usah baca sampe habis, hehehee.

Pagi itu : “Fi, sini bantuin beres2!” , suara bu Bos lantang setengah tertawa sambil mengangkat kardus-kardus besar. Saya cuma melirik tanpa ekspresi, spontan saya nyeletuk, “gak ah Bu, saya gak mau bantuin beres2, takut sedih”. Celetukan saya diikuti tawa “geeeeerrrrrr” kawan-kawan satu ruangan, termasuk bu Bos. Yak, Bu bos  kemarin beres-beres untuk memindahkan semua perlatan kerjanya ke tempat lain😦 , besok meja dan kursinya sementara akan kosong, sampai pengganti beliau datang.

Saya belum bisa membayangkan besok. ya Besok, Senin 3 Oktober 2011. Besok adalah hari pertama Bu Bos tidak lagi duduk di mejanya seperti biasa. Besok adalah hari pertama saya tanpa bu Bos. yak, bu Bos mendapat mutasi ke lokasi lain. Sedih? jelas! Kalau biasanya pagi suka ngedenger suara teriakan bu Bos dengan nada 8 oktaf, besok gak lagi. Kalau biasanya saya suka merajuk ke Bu Bos atau curhat dan menggosip ala ABG gak jelas, besok gak bisa lagi. Tuntutan di perusahaan kami yang memang suka bikin acara mutasi-mutasian dan rolling-rollingan pegawainya.

Bu Bos adalah sosok yang tegas. Wanita yang mengajarkan banyak hal pada saya. Bu Bos bisa jadi atasan, ibu, sekaligus teman ngakak yang menyenangkan. Telah 6 tahun bekerja di fungsi sekarang (setelah sebelumnya 13 tahun mengabdi di lokasi) membuatnya menjadi salah satu wanita paling dicari di jagad perusahaan kami, beliau seperti kamus berjalan. Bahkan saat tidurpun beliau masih bisa ngasih solusi.  Setahu saya, Bu Bos hampir tidak pernah mengeluh. Sebagai ibu sekaligus memegang posisi vital di perusahaan tidak pernah membuatnya terlihat sedih, kecuali kalo pas lagi sakit perut atau laper berat😆 Tiap hari bu Bos pulang pergi Jakarta-Bogor naek KRL, pagi buta masih menyempatkan masak untuk keluarga, malam ketika pulang beliau mewajibkan diri mendampingi kedua anaknya belajar dan mengerjakan PR, tugas kantor menuntutnya harus standby on-call 24 jam, tak jarang saya menelepon beliau jam 11, jam 12, atau jam 1 malam, dan beliau tiada pernah komplain! Beliau juga masih sempat berolah raga 2 kali seminggu, aerobik di kantor, dan tiap jumat menyempatkan diri ke Tanah Abang atau Pasar Baru, belanja ala emak-emak pas jam istirahat. Beliau juga gak sungkan saya ajak jalan naek bajaj atau jalan kaki. Tak jarang saya curhat perkara laki-laki ke beliau, diawali dengan sedikit mewek dan pasti berakhir dengan ngakak-ngakak berdua🙂

Bu Bos saya itu lucu. Gaya bicaranya khas jawa timur blak-blakan, dengan suara yang dari radius 5 kilo pun masih kedengeran😆 Pertama kali saya mengenal beliau saya takut bukan kepalang, rasanya kayak emak-emak galak yang siap melahap saya. Tapi ternyata tidak, beliau sahabat yang menyenangkan. Pernah satu kali kami dalam perjalanan dinas, saat di bandara bu Bos terlihat agak bosan, tiba-tiba saat menyeret kopernya, beliau lari2 kecil cepat-cepat ala anak kecil di eskalator sambil dada-dada melambaikan tangan dan teriak2 “afiiii dadaaaaaa fiiii duluuuan yaaaaaaaaaaaaaa dadaaaaaa!!!” yang diikuti tatapan aneh orang-orang dan saya cuma bisa bengong tepokjidat, setelahnya kami ngakak berdua. Atau ketika saya diajak makan sop Konro di Makassar, puas dan kenyang makan sop konro, Bu Bos mendadak bilang, “aduh Fi,…makan kebanyakan niih, jalan kaki ya habis ini ke hotel. Bakar lemak! ayo! perutmu dah gendut lagi tuh”, sambil nunjuk2 perut saya. Jadilah saya terpaksa pulang jalan kaki nemenin bu Bos demi tugas mulia membakar lemak dari kantor cabang ke hotel yang berjarak kira-kira sekilo. Gak jauh sih, tapi bagusnya saya pas pake high heels!! *hiks* sementara bu Bos bawa spatu crocs cadangan buat jalan *curaaang*. *kaki pegal jendraaaal!!! hahahahahha =)) . Ada lagi ketika saya sering sekali melakukan kesalahan dalam satu hari, entah bikin surat, entah ngecek data, entah koordinasi saya yang kacau. Ketika ada pihak lain yang komplain atas kerjaan saya yang ndak bener dan melapor ke Bu Bos, bo Bos menanggapinya dengan santai, ” halah pak.. yo opo reeek, salah sithik tok ae ngko di benerke kok… biasalah.. si Afi lagi mumet iku, njomblo terooos, gak konsen arek e…maklum lah, hahahahaha”. -___-” Dan saya cuma bisa nyengir kuda mendengarnya… tengkyu bu Bos🙂

:"> saya dan Bu Bos

Dari Bu Bos, saya belajar untuk tidak banyak mengeluh. Dari bu Bos saya belajar untuk menikmati apa yang kita punya tanpa mencemaskan sesuatu yang tidak kita punya. Dari bu Bos saya belajar tetap ceria meski kondisi emergency dan kritis di luar sana, untuk tidak mudah menyerah dengan masalah yang gak pernah ada habisnya.Dari Bu Bos saya belajar menyikapi begitu banyak perubahan di luar sana, untuk tetap bersyukur atas apa yang terjadi. And i`m still learning until now… :’)

Bu Bos, selamat bertugas di tempat baru. Semoga tetap menjadi wanita yang selalu menginspirasi, menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang sekitar. Terima Kasih Bu🙂 I’ll miss you. A lot :’)

4 thoughts on “Bu Bos dan Saya

  1. terharu aku bacanya fi… waaa senangnya punya bos wanita yg hebat bgt gitu… moga dpt pengganti yg baek lg ya fi… tetep semangattttt 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s