Sebuah e-mail Tentang Ramdian

Ini Hari Minggu. Biasanya saya bangun dengan setengah hati, habis sholat Shubuh pasti Tidur lagi. Tapi hari ini saya harus mandi dan siap2 dari jam 5 pagi. Minggu pagi adalah jadwal saya ke Al Azhar – Masjid Agung di Kebayoran Baru- untuk  saya masuk  “sekolah” minggu😆 Biasanya saya berangkat jam 8 pagi dari kos saya di Kwitang bareng Beti, kawan satu kos. Namun kali ini beda, saya harus berangkat dari Depok, karena kebetulan tadi malam keponakan saya sakit, dan saya diminta untuk nginep dulu semalam lagi di rumah kakak di Depok.

Sudah lama rasanya tidak naik KRL pagi-pagi saat matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya. Karena ini hari Minggu, tidak ditemui wajah-wajah terburu masuk kantor atau wajah lelah untuk bekerja tapi wajah riang anak-anak, keluarga yang mengajak liburan anaknya, atau kumpulan ibu-ibu yang mau jalan-jalan. Belum semenit saya menunggu KRL arah jakarta tiba, email di milist @PagiBerbagi di BB saya berbunyi tanda ada email masuk. (Untuk yang belum tau apa itu PagiBerbagi, bisa liat postingan saya sebelum2nya ya). Ternyata email dari Farida, kawan di PagiBerbagi. Dia menceritakan kisahnya bertemu dengan seorang anak. Saya terharu bacanya. Bagi saya si Ramdian, nama anak itu, mengajarkan sesuatu buat saya dan buat yang baca email itu tentunya. Ini saya copast isi emailnya, dengan beberapa editan tanpa mengurangi isi ceritanya. Selamat membaca ya, semoga bermanfaat🙂

Anak hebat ini bernama, Ramdian
Jakarta, 24 Maret 2012

Sore itu setelah perjalanan panjang dua hari dari Bintaro-Kwitang-Bogor-Bekasi-Tebet, saya berencana untuk mengakhiri perjalanan dengan kembali ke Bintaro. Sore itu tepat pukul 15.00 saya pamit sama teman-teman menuju stasiun Tanah Abang. Tiba disana ternyata perlu menunggu 45 menit lagi untuk jadwal kereta selanjutnya.

Hari itu Jakarta sedang panas terik, mungkin neraka sedang bocor kali yah, hingga panasnya menurut berita sampek 35 derajat celcius. Penuh sesak stasiun, asap rokok, banyak anak-anak kecil bahkan bayi yang diajak orang tuanya entah dari berlibur, belanja, atau sekedar jalan-jalan (kalo punya baby tolong donk ibuk, jangan dibawa ke tempat umum dulu yah, kasihan udah kena macam-macam polusi ). Setelah menunggu sambil kepanasan dan ditemani sebotol air mineral tanpa dapat duduk, karena tidak ada tempat duduk, terdengar suara petugas PT. KAI dari corong sound system “Di jalur 6 dari arah utara, dari Kampung Duri, mengarah menuju Stasiun Tanah Abang, KRL Comuter Line menuju Serpong”. Saya pun bergegas untuk masuk ke dalam kereta di gerbong 1 “khusus wanita”. Kembali saking banyaknya penumpang, sampai-sampai banyak penumpang yang berdiri termasuk saya. Tiba-tiba ada seorang anak kecil berseragam pramuka dengan tas yang lebih besar daripada badannya, dengan tangan yang bintik-bintik, gatal kali ya, mungkin diakibatkan oleh kondisi air yang buruk.entah mengapa anak ini menjadi perhatian saya, saya ambil handphone lalu dengan diam-diam saya potret dia, eh ternyata dia malah nengok, hehehe.

Akhirnya saya hampiri dia, kereta sudah berjalan, saya mulai pembicaraan. “Sendirian dhek?”. Si adek menjawab “iya”. Saya lanjutkan “kok masih pake seragam sekolah, memang darimana?”. Dengan tanpa melihat wajah saya dia jawab “sekolah”. Naluri investigasi saya akhirnya muncul, dalam benak saya, ini kemana orang tuanya, anak kecil sekolah naik KRL sendirian. “memang ini mau kemana, setiap hari kamu naik KRL ini?”. Mendengar pertanyaan saya si adek, dengan sedikit acuh tak acuh bilang “mau ke rawa buntung, iya setiap hari saya naik KRL”. Merasa tidak familiar dengan daerah itu kemudian saya mendongak ke atas, dimana ada peta rute KRL, subhanallah ternyata Rawa Buntung itu masih 3 stasiun
setelah Pondok Ranji (tempat saya akan berhenti). Padahal Tanah abang-Pondok Ranji itu ditempuh 20 menit dengan KRL, wah berarti si adek ini harus menghabiskan segitu lamanya perjalanan hanya untuk
pergi ke sekolah.

Saya teruskan pembicaraan, “sekolahnya kok jauh banget?”, “iya kak, soalnya keluarga pindah kesana”, jawabnya, “terus udah berapa lama kamu PP naik KRL gini?”, lanjut saya. Dia menjawab “udah sejak kelas 1”. Sekarang si adek ini kelas dua SD, dia sekolah di SDN 02 Petang. Ketika saya Tanya masalah nama SD nya dia hanya bilang SDN 02 Petang, “tidak ada embel-embelnya lagi, masak cuman Petang saja?”. Dia jawab “iya, pokoknya saya habis naik KRL lalu naik Kopaja 502”. Terus terang saya juga tidak ada bayangan dimana letak itu SD.

Pembicaraan berlanjut. Akhirnya saya ketahui bahwa nama si anak kecil ini Ramdian, umur 7 tahun. Dia 9 bersaudara. Katanya entah saya salah tangkap atau bagaimana, karena riuhnya keadaan kereta saat itu, dia bilang kalau saudara-saidaranya ada yang di Bekasi, ada yang di Jakarta dan ada yang ikut Bapaknya sama seperti dia. Ternyata dia tidak tinggal di Rawa Buntu, dia tinggal di Sudimara. “terus, ngapain kamu ke Rawa Buntu ?”, “Untuk bantuin ajarin teman yang enggak bisa baca”, jawabnya dengan malu-malu. Alamak, anak sekecil ini. Entah mengapa saya jadi malu sama dia, dia tidak lelah ya, untuk bantuin orang lain, padahal itu sudah jam 3 sore. Dimana bisaanya anak-anak lebih suka pulang dan bermain bersama yang lain. Anak ini menjadi guru privat bagi temannya. Subhanallah. “saya, setiap hari pulang sekolah jam 3 lalu ke Rawa Buntu dulu, ntar pulang ke Sudimara jam 5 sore, naik KRL lagi”, katanya. Saya jadi ingin tahu apa yang menyebabkan anak ini rela sebegitu baiknya ngajarin teman-temannya “kamu memang dikasih uang gitu sama orang tuanya?”, “enggak, palingan cuman dikasih
makan”. “saya makan 5 kali sehari, pagi, siang, sore, malam dan subuh”.Saya ketawa mendengar celotehnya. “Tapi makannya sama mie ajah”. Whatttt???.Ou em Ji. Lalu saya tergelitik untuk mengetes kalo memang dia bisa baca. Dia saya minta baca tulisan dibalik kaca kereta, jadi dia baca huruf terbalik dan dengan lancarnya dia bilang “Awas, Tangan Kejepit”. Waw, luar bisaa, anak secerdas ini hanya makan indomie bisa rangking 2 di kelasnya dan ketika saya tanya nilai matematika dia bilang dengan malu-malu “10”. Ckckckckck, amazing. Beralih ke soal cita-cita, mungkin karena kurangnya inspirasi dari lingkungan sekitar ketika ditanya masalah cita-cita, dia dengan lantang bilang “saya mau sekolah sampek SMA”. Agak miris mendengarnya, mungkin di keluarganya tidak ada sosok yang menjadi panutan yang bersekolah tinggi sehingga dia hanya menargetkan sekolah sampek SMA saja.
Hal yang membuat saya agak teriris, entah ini benar atau tidak, karena dia masih kecil, terkadang anak kecil meskipun jujur tetapi masih kurang paham dengan persoalan. Ketika saya tanya tentang biaya sekolah, (saya ingat Pagi Berbagi butuh anak untuk dijadikan adek asuh), dia bilang g ada iuran bulanan paling untuk beli seragam, 500 ribu. Lalu saya tanya dia dapat uang darimana klo untuk beli seragam, dari kakak tapi saya nyewa dia bilang angka 15 (saya g tahu maksudnya 15 ini apa, 15 ribu atau bagaimana). Saya baru mendengar sekali ini ada seragam disewakan, terus kalau rusak bagaimana, kalau missal robek bagaimana, ini yang masih menjadi ganjalan dalam pikiran saya. Dia bilang ntar kalau naik kelas, seragamnya dikembalikan. Aduh, ada yah system yang kayak begitu, saya masih geleng-geleng kepala. Sebenarnya saya masih pengen ngobrol banyak sama Ramdian ini tapi apa kata, saya sudah harus turun, 20 menit sudah saya dalam KRL yang member pengalaman berharga tentang kisah perjuangan seorang anak untuk sekolah.

NB:
Anak ini tidak bayar kereta, karena dia tidak pernah dapat uang saku dari ayahnya, ayahnya sakit dia hanya memegang dada sambil berakting seperti orang sesak napas, ketika saya tanya sakit apakah beliau. Sebenarnya tidak membayar kereta itu adalah kesalahan besar, karena dia sudah dididik untuk tidak jujur diusia yang masih sangat belia. Namun saya yakin dia tidak tahu tentang itu, karena tidak ada yang pernah mengajarinya untuk berlaku taat aturan. Dibalik salahnya dia g bayar naik kereta, ada banyak hikmah yang dapat diambil. Kerja keras, pantang menyerah dan semangat untuk berbagi ilmu kepada orang lain. yuk, kira-kira apa ya yang bisa dilakukan untuk anak ini, tentunya kita udah tahu nama sekolahnya, saya kok kepikiran untuk ngasih seragam….gimana tanggapannya teman2😀

Pyuhhh…..selesai, maaf yah teman-teman, panjang banget ceritanya hihihi,
_Lee@na_ 25 Maret ba’da sholat subuh

One thought on “Sebuah e-mail Tentang Ramdian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s