Siapa yang Mengajari Mereka Jadi Pengemis?

*tulisan tanggal 8 April 2012*

Justru karena saya kehabisan tiket kereta perjalanan hari ini, pulang lebih awal dari Jogja ke Jakarta tadi pagi menjadi berkah tersendiri. Saya merasa melihat dunia yang berbeda dari biasanya. Dunia yang saya pandang dari jendela kaca berukuran 1×0,5 meter, tepat disamping saya duduk di gerbong-7 kereta pagi tadi.

Pagi ini saya melakukan perjalanan Jogja-Jakarta menaiki Kereta Fajar Utama Jogja, lha kok ndelalah, ketemu Mas Bayu, rekan senior satu ruangan di kantor, beliau kembali ke Jakarta lengkap dengan keluarga plus mertua. Kebetulan yang aneh betul, mengingat jumlah kereta jalur Jogja-Jakarta lebih dari 3 macam, gerbong pun ada banyak, lha kok masih ketemu juga, satu gerbong pula. Kami sempat heboh norak di depan pintu kereta. Dan kebetulan lagi saya kebagian duduk paling depan bersebelahan dengan mertua Mas Bayu. Sepanjang jalan, saya sedikit sekali mengobrol dengan mertua Mas Bayu, selain saya gak jago bahasa jawa halus, pun kami gak punya topik untuk dibicarakan, jadilah saya lebih banyak ngliat ke jendela layaknya saya punya tv LCD 42 inch punya saya sendiri🙂

Sesekali saya mencoba menghabiskan bacaan novel di depan saya, agak malas sebenarnya, soalnya kalo baca tulisan pas di atas kendaraan suka pusing sendiri. Maka, sekali lagi saya lebih suka bengong ngliatin jendela. Lucu juga kadang pas nglewatin hamparan sawah, saya suka sok-sok terpesona gitu. Beneran kalo dipikir2, saya udah jarang banget liat sawah. Saban hari, sejak menetap di Jakarta, kalo gak ngliat kendaraan menyemut, lautan manusia atau gerombolan gedung bertingkat tinggi. Saya jadi suka ada di kereta itu. Menyenangkan. Saya nikmati saja jendela di samping saya silih berganti menampilkan sawah, kebo sedang membajak sawah, anak-anak main di sungai, jalanan, rumah-rumah di pinggir kebun, ah. senangnya.

Sampai akhirnya saya sampai di Stasiun kecil di daerah Cirebon. Menjelang siang panas luar biasa. Mendadak saya kaget melihat segerombolan anak-anak, layaknya dikomando berjejer rapi di pinggir rel tepat menunggu kereta saya berhenti sempurna. Anak-anak itu, tanpa alas kaki -padahal sumpah pasti panas banget itu rel- berjejer di atas rel sebelah. Ketika kereta yang saya tumpangi berhenti, mereka berebutan teriak-teriak dari samping jendela, “Bu… Pak.. minta uangnya paaak… kasihani pak”. Saya bengong. Baru kali ini saya liat anak-anak mengemis sebegitunya selain di jakarta. kalo di jakarta, saya maklum, tapi ini? di daerah, yang masih banyak sawah dan ladang yang bisa digarap, masih banyak lapak yang bisa dibuka, masih banyak kesempatan, yang seharusnya masih lebih banyak orang baik tinggal disini. Tapi?? ini kenapa anak-anak ini mengemis???

Satu-satu saya pandangi mereka. Saya bisa menebak mereka usia sekolah antara kelas 2-6 SD. Karena kereta saya tiba di stasiun kecil tersebut sekitar jam 3 sore, itu artinya besar kemungkinan mereka berjejer2 ini setelah pulang sekolah. Baju mereka tidak compang-camping, mereka bertelanjang kaki, tapi ini lebih karena mereka memang maunya begitu. Sekali-kali mereka melompat-lompat diatas rel karena memang sore itu matahari menyengat minta ampun. Saya mengamati mereka. Mereka bukanlah pengemis. Mereka sekolah, tapi kenapa mereka ada disini. Lamat-lamat saya amati lebih jauh lagi, di ujung gerbong, di seberang duduk bapak-bapak tambun di depan pos security, matanya awas mengamati setiap anak yang berjejer di rel ini. HHmmm.. mungkin si Bapak ini semacam koordinator? entahlah.

Teriakan-teriakan mereka minta dilempar uang makin membuat sore itu semakin panas, bukan karena terik yang makin menyengat, tapi sadar mengetahui bahwa ada anak-anak ini yang “sekolah” tapi masih “mengemis”. Bisa jadi, uang yang mereka dapat bisa buat nambah uang jajan, mungkin. Tapi bukan perkara uang, bagi saya ini mengerikan. Mereka sudah diajari mengemis. Mental meminta. Disadari atau tidak, mereka berpikir, bahwa mencari “uang” bisa lho hanya dengan mengemis. Mengemis bukan tanpa resiko, panas, haus, bagi anak-anak ini tidak mudah. Tapi kok? ah, saya makin gak ngerti. Saya makin bingung. Buat saya, rasanya anak-anak ini harus diapain, rasanya pengen kembali mencuci otak mereka untuk tidak pernah tahu ada kata kerja “mengemis” di dunia ini. Saya membayangkan, kelak anak-anak ini akan tumbuh dewasa, mereka berkeluarga, akankah mereka mengajarkan kepada anak-anaknya tentang mengemis juga?  ah sudahlah. Saya kejauhan mikirnya.

Kemana larinya anak-anak yang lari-lari tiap sore ke surau untuk belajar ngaji? kemana larinya anak-anak yang setelah dari surau berlarian ke pinggir sawah bermain gundu atau mengadu layangan. Kenapa mereka malah disini😦

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s