Obrolan Toilet

Sudah sebulan sejak tulisan terakhir (yang mana saya sendiripun bengong dengan tulisan terakhir saya kemarin). Baiklah mari kita menulis apa saja, ibarat belajar bahasa, makin tidak dipake bikin lupa. Menulis pun begitu, makin tidak pernah menulis, rasanya jadi kagol betul menulis lagi. terlebih sejak Laptop saya berpindah tangan “sama yang lebih membutuhkan” hehehe, mungkin ini cara Allah menegor saya, laptop itu dimaksimalkan penggunaanya, gak cuma dibuka buat nonton pelem atau ndengerin lagu.

Kekagolan menulis ini berbanding lurus juga dengan semakin menurunya tingkat intensitas saya membaca. Entah sudah berapa buku yang masih bersampul plastik, atau baru saja dilepas plastik pembungkusnya tapi sama sekali belum saya baca. Tapi tiap kali ke toko buku yang ada beli buku melulu. lapar mata. pulang bawa buku segambreng, tapi dibaca pun cuma judul saja.

oke, 2 paragraf pertama sudah tiada sesuai judul, hahahaha. Tadinya saya mau bercerita tentang obrolan-obrolan saya dengan rekan2 kantor ketika di toilet. Meski kebanyakan obrolan renyah nan kriuk-kriuk tidak menyehatkan. Ibarat makanan, kadang lebih banyak kolesterolnya. hehehe. Tapi ada satu dua obrolan yang kadang tak terlintas dibenak saya, menjadi sesuatu yang baru saya tahu, menjadi sesuatu yang mengingatkan saya kembali.

Sore itu, seorang kawan, mendadak bercerita tentang pusingnya kerjaan hari itu. Melihat saya yang terduduk malas di sofa foyer toilet, spontan dia bercerita seolah saya mengalami hal yang sama dengannya. Kami berdua memang tidak tergabung dalam satu fungsi, namun saling berhubungan. Kebetulan dia ini berada di fungsi yang ngurusin impor dan segala tetek bengeknya dan saya kebagian ngurusin operasi pemasaran domestik. Satu hal yang sama dari kami berdua adalah telepon yang selalu berdering mana kala hari libur. atau ketika jam-jam setelah jam kantor. Lingkup pekerjaan kami di bagian operasi, memang memberikan satu kebijakan khusus : kami harus on-call 24 jam. Olala. tak jarang tengah malam pun telepon berdering harus diangkat. Cuti untuk ambil liburan pun sering kali tiada tenang, yang ada saya beberapa kali lebih sibuk nyari sinyal di lokasi liburan hanya untuk bisa bekerja jarak jauh via telepon dan gadget yang saya punya.

okey, intinya hari itu memang hari yang super duper sibuk. Bisa dihitung berapa kali saya beranjak dari kursi kerja saya. pertama karena haus untuk ambil minum, kedua ke toilet kalo bener-bener gak tahan nahan pipis :p Sore itu ketika hampir sebagian pekerja sudah pulang, barulah saya bisa melemparkan tubuh saya untuk sekedar mencari sinar matahari dari jendela toilet.

“Fi, kapan ya gue bisa pindah fungsi?” kawan saya membuka obrolan toilet sore itu. “hah? ngapain? hahaha pusing ya Mal?” oceh saya seraya tertawa ngakak. tak berselang saya pun melanjutkan, “hmm.. kalo 2 tahun lagi aku masih di fungsi ini juga.. hmmm… resign kali ya, hahahha”. kawan saya bengong, “hahhaa, iya sih fi, blom lagi kalo lo ngrasain kayak gue, punya bayi dan suami yang harus diurus di rumah. tiap gue pulang, anak udah tidur. ya pagi ketemu sih, buat nganterin dia ke rumah mertua, dititipin”. ingatan saya langsung tertuju pada novel Rumah COkelat, salah satu novel favorit saya yang bercerita tentang ibu bekerja. Saya mendengarkan kawan saya lagi, “masak ya Fie, gue taunya anak gue bisa ngapain dikit gitu kalo ditelpon mamah, sementara gue sendiri gak bisa liat sendiri.” Meski nadanya tidak menyiratkan kesedihan, tapi saya tau ibu mana yang tidak kecewa ketika tidak bisa mendampingi sendiri anaknya bertumbuh kembang, seperti pertama kali mulai merangkak, atau kata pertama apa yang dia ucapkan. Jauh di lubuk hatinya, kawan saya itu pasti ingin sekali ada dirumah, bukan di meja kerja seperti sekarang.

Sejurus kemudian, saya mulai membayangkan, apa yang dialami kawan saya itu, bisa jadi terjadi pada saya (kalo saya biarkan itu terjadi). Saya belum punya bayangan manakala nanti suatu saat saya menikah tapi tetap bekerja. di Jakarta pula? (helloow?? menjadi single di Jakarta saja sudah cukup merepotkan pemirsa). Entahlah. Saya harus siap. Membayangkan adanya alternatif lain. Resign kah? pindah kota kah? atau apapun itu. Yang jelas, saya makin tau bahwa prioritas-prioritas itu ada ditangan kita sendiri. ingin menjadi seperti apa hidup kita. Bahagia seperti apa yang kita mau.

Ah, saya jadi pusing. hihihih. Saya mau baca buku-buku yang belum tersentuh saja. Mau banyak-banyak menulis (meski tidak di posting di blog). Saya mau mencari hobi saya lagi. Beberapa bulan terakhir saya cukup diperbudak (lebih tepatnya membiarkan diri saya diperbudak) oleh rutinitas pekerjaan yang tiada habisnya. Tidak cukup tegas untuk meluangkan waktu untuk saya bertumbuh sendiri.🙂

3 thoughts on “Obrolan Toilet

  1. Cari duit yang banyak dulu di Jakarta. Paling lama 5 tahun lagi. Terus kabur ke negara lain dan hidup di desa. Ritual paginya menikmati sinar matahari sambil mensyukuri hidup. Di sorenya memandang indahnya senja sambil mancing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s