Tracking To Ijen Crater

– Paltuding Rest Point- Starting Point Tracking to Ijen Crater

Baiklah, menyambung tulisan saya sebelumnya tentang trip saya, Dhanu dan Allaq ke Pantai Papuma, akhirnya setelah beberapa hari tenggelam dalam kerjaan, sekarang baru sempatlah saya menulis lagi (alasan)😛 mari kita lanjutkan perjalanan saya waktu itu *dalam keadaan sedikit mabok simulasi kerjaan*😛

Selepas puas memandang birunya air laut di Pantai Papuma, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen, the ultimate titik perjalanan kami *aheee*, yaah, karena memang niat utamanya memang ke Ijen. Dulu saya tau kawah Ijen itu dari sebuah iklan rokok di TV. Waktu itu ada adegan mbak2 model cantik pake kain berkelebat2 diatas tebing gunung yang dibawahnya ada kawah. di pojokan layar tertulis “Ijen Crater, East Java”. di TV memang keliatan bagus bangeeeet. Jadi sekarang saatnya pembuktian.

Dari Papuma, kata si Allaq yang “mbaurekso” Jawa Timur, kami harus ke arah Bondowoso, kota tempat kawah Ijen ini berada. Katanya sih sekitar 3 jam dari Papuma, Jember. Jam 14.00 kami cus dari Pantai Papuma. Perkiraan berarti paling lambat jam 6 kami sudah sampai di kawasan Ijen, tentu rencananya akan bermalam dulu di homestay2 di kaki kawah Ijen, tempat starting point pendakian pertama. Jujur, ini pengalaman mendaki gunung (beneran) yang pertama. Sebelumnya memang pernah tracking ke Gunung Gede, tapi cuma mentok sampe Air Terjun Ciebeureum saja. itu aja udah ngos2an. Maka berbekal jaket tebal dan slayer, saya meyakinkan diri. Tapi yang saya lupa, sudah beberapa bulan saya jarang sekali olah raga. Fitness kantor yang tadinya rutin saya jalani, sudah 3 bulan terakhir gak pernah lagi. Dan ternyata ini jadi satu hal yang saya sesali ketika mendaki Ijen.

Oke, sepanjang perjalanan menuju Bondowoso, saya sukses terlelap di kursi tengah. Sementara Allaq dan Dhanu bergantian nyupir dan berdebat perkara rute dan GPS. Yap, Masih tetap mengandalkan GPS dan google map. Kami masih belum kapok menggunakan teknologi map yang itu, meskipun sudah punya pengalaman buruk ketika perjalanan menuju Papuma. Alasannya cuma satu, gak ada lagi alternatif lainnya selain bertanya pada penduduk sekitar. hehehe. Tapi toh kami sudah tau, Google Map dan GPS yang kami punya belum bisa memberikan informasi mengenai availabilitas jalan. Jadi mari banyak berdoa.

Menjelang Maghrib, ternyata kami masih belum masuk kota Bondowoso, entah, mungkin memang jalannya bertambah jauh, atau si Dhanu yang menyetir terlalu pelan2. Kami berhenti di Pom Bensin sejenak untuk sholat maghrib dan Isya. jamak. sekaligus ngecharge HP, meskipun kami tau di Ijen sana ndak bakal dapat sinyal. hehhee. Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan. Oke, kebingungan kami pertama muncul. si GPS mulai menunjukan jalan mencurigakan. Kanan-kiri yang kami lewati hutan yang cukup gelap. si GPS menunjukan kami harus belok kiri, jalanan berbatu. Ah, mungkin ini sudah mulai naik gunungnya. dan menurut hasil searching di Google, jalanan menuju Ijen memang kurang bersahabat. Jalanannya fully berbatuan dan menanjak. Oke, mobil yang kami tumpangi makin masuk, makin masuk kok makin gelap. Bertanyalah saya pada penduduk sekitar, berhubung sudah mulai curiga ini jalan kayaknya ndak beres, “permisi Bu, kalo mau ke kawah ijen ke mana ya bu?” dijawablah oleh si ibu2 di pinggir jalan, “hfhfj%*$*@$&%&*” >> bahasa yang saya tak mengerti. saya bengong. saya bingung. Bahasa jawa bukan, apalagi Indonesia. Allaq yang tau kebingungan saya, segera membuka jendela dan mengulang pertanyaan saya dengan suara yang lebih keras. Dari pembicaraan mereka, saya baru nyadar kalo si ibu2 menjawab dengan bahasa Madura. Okeh.. saya makin bingung kita ini sebenarnya ada di mana. dan jelas. kami tersesat (lagi). Memutar jalan, kembali ke jalanan utama. Ternyata oh ternyata Jalanan menuju Ijen itu adalah jalanan besar yang termasuk jalan utama kota Bondowoso. Damn you GPS!! *hihihihih* baiklah. Kembali ke jalan yang benar. Ternyata cukup banyak petunjuk jalan yang mengarah ke Kawah Ijen. Keindahan kawah ini tampaknya sudah mendunia, terbukti banyaknya petunjuk jalan dan banyak betul bule2 yang kami temui disana.

Kembali ke perjalanan, kami mulai masuk ke kawasan berbukit. Jalanan berbatu dan gelap. Kanan kiri hutan lebat. Entah sudah ketinggian berapa, yang pasti saya betul2 merasa kedinginan. AC mobil sudah dimatikan, dan berganti dengan hawa gunung yang menusuk dinginnya. Selang beberapa menit, ada pos penjagaan di depan. Kami berhenti karena memang harus lapor. Syukurlah pak Penjaga berbaik hati. Melihat dua laki-laki dengan polosnya memakai celana pendek di pegunungan dan kaos lengan pendek, sudah tentu mereka merasa kasian. Sementara saya sudah fully covered dari atas ampe bawah. super dingin jendral! Kami diperbolehkan turun dari mobil dan menghangatkan diri di api unggun yang dibuat bapak2 penjaga. Plus, kami boleh ngecharge hape. hore!! Api besar di depan saya sungguh masih kalah dingin dengan ujung jari-jari saya. Dhanu dan Allaq segera berganti menambah memakai jaket tebal dan slayer. Kami berbincang sebentar dengan pak Penjaga. Beliau bilang nanti masih akan menemui dua pos lagi. dan masing-masing pos kami harus lapor. Penting. Untuk bisa mentracking kalo-kalo ada pendaki hilang atau terjadi sesuatu. Setelah cukup hangat, kami melanjutkan perjalanan. Jalanan masih gelap dan berbatu. Lebih dahsyat daripada naek  lima bajaj sekaligus sambil koprol. Jalanan gelap, kanan kiri tak terlihat apapun. Padahal kata pak Penjaga tadi banyak homestay di antara pos 1 dan 2 ini. Entahlah. Sudah malam. jadi kami fokus melihat jalan yang sungguh2 yang totally “nggronjal-nggronjal”. Selang 40 menit, saya dan Dhanu mulai curiga. “om, ini beneran jalan kita masih bener? kata si bapak itu 30menit udah nyampe pos akhir” tanya kami kepada Allaq, om adalah panggilan kami kepadanya. “bener kok, lihat nih di GPS, masih bener”, kata si Allaq yakin. “eh, tapi kok jalanannya turun ya Om?” Samber Dhanu. Saya mengiyakan. “nggak, udah deh bener ini, nih liat nih petanya…”. Kami pun mengiyakan saja. Sampai tiba-tiba ada bapak2 penduduk setempat menytop mobil kami, “mas.. mas mau kemana? ini jalanan turun, ati2 mas”. “Mau ke Ijen pak…” jawab kami kompak. “owalah mas, kelewatan.. 6 kilo kebelakang tracking point nya..”. ” oh gitu ya pak”, saya dan Dhanu kompak melirik si Om, again, Damn you GPS!! *hihihihihi*

Kami pun kembali memutar jalan. Kekhawatiran pertama kami muncul. Jarum penunjuk bensin sudah mendekati huruf “E”. di gunung gini mana ada pom bensin jendraaal T__T. ah, tapi mau bagaimana lagi. Kepalang tanggung. Sudahlah, lanjutkan perjalanan. Di depan kami ternyata ada banyak pengunjung Ijen pula, mereka naik motor rame2. gak kebayang mereka dinginnya kayak apa T__T. 6 km kemudian ternyata benar ada papan petunjuk tracking point kawah Ijen. Karena gelap jadi kelewatan. Kami pun turun, dinginnya makin menusuk. dan clingak-clinguk gelap gak ada lampu dan penerangan. Plus.. kami kebelet pipis. Niatan nginep di homestay agaknya mustahil. mau Jalan ke arah mana juga gak tau. Jam menunjukkan waktu 11 malam. Rencana naik ke Ijen sekitar jam 4 pagi. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam saja di mobil. Dingin? jelas!! Duiiingiiin bangeeeet…. Dhanu bilang kita ada di ketinggian 1.800-an dpl. Entahlah itu seberapa tinggi. Yang jelas dinginnya cukup menusuk. Setelah makan malam seadanya dalam keadaan dingin, kami tidur. Saya sampe harus mengeluarkan mukena biar hangat. hehehe. Tidur. dalam keadaan menahan pipis itu sesuatu😆

Paginya saya terbangun karena kedinginan. Riuh rendah suara para pengunjung yang akan mendaki sudah mulai terdengar. rupanya sudah beberapa rombongan yang mendaki. kami pun bangun. Bergegas cari toilet dan mulai mendaki. kabar dari Pak Penjaga, perjalanan akan menempuh jarak 3 km. Total perjalanan 6 km bolak-balik. Saya langsung membayangkan jarak kos dengan kantor saya yang berjarak 1.5 km. artinya saya kayak bolak-balik ke kos-kantor 4 kali. Okelah. bisa. tapi yang Pak Penjaga ndak bilang, kalo ternyata jalanan nya nanjak dan pasir. aaarrghh.

Ijen Crater

1 km pertama saya lewati dengan ter engah2. Kalo di film doraemon, saya ini adalah nobita yang selalu tertinggal di belakang ketika mendaki bukit. Dhanu dan Allaq sampai beberapa kali menunggu saya menyelesaikan nafas. Sungguh. Rasanya nafas saya mau habis. Tentu oksigen semakin menipis, dan inilah mengapa saya menyesal jarang olah raga. Saya sungguh menjadi lemah tak berdaya gini. Setiap melangkah 15 langkah saya berhenti mengambil nafas. Nafas saya pendek2. kayak mau habis. Kalau saja ada warung yang jual nafas, saya pasti mampir dan beli segalon.😦 Dhanu mulai menyeret saya. diikuti si Om yang berkali-kali bilang,”ayo Fi, ini cuma perkara mind set mu! kamu bisa”. Tapi yang keluar dari mulut saya adalah, “hhhhh…hhh…hh..kaa..hhh lliiaaan, duu…hhh luuuaaan saaahaaajaa”, Dhanu dan Allaq berbarengan menggeleng. “haaakuu gak kkkuuuuat…” sumpeh deh. Saya beneran gak kuat waktu itu. Sudah mau nangis dan pingsan saja. tapi malu tiap kali ada rombongan lain lewat. Dhanu kemudian mendorong tubuh saya ke depan. Allaq menyeret saya dari atas. Kami harus menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat. Saya gak kuaaat. Diam-diam saya nangis. Tapi kan ketutupan slayer, jadi gak keliatan tuh. hehehe. Dhanu masih mendorong dan Allaq masih menyeret saya sambil terus mengomel, “mind set mu Fi.. mind seeeet!!!”. Saya melengos. Jalanan makin tidak bersahabat, selain menanjak, ternyata tidak cukup batu untuk kami pijak. yang ada pasir dan vegetasi mulai berganti bentuk. saya beberapa kali terpeleset. Saya berhenti. Terengah-engah hebat. sedikit menyeka air mata, saya hanya memberi kode dengan tangan pada Dhanu dan Allaq, saya gak kuat. Mereka cuma diam. hhhh. Dhanu tiba-tiba bilang, “Ayolah Fi, kita datang bareng-bareng, naik bareng-bareng”. Saya diam. Diam-diam saya terharu juga dengan cara dua orang teman saya ini meneguhkan saya untuk terus berjalan. Ini memang cuma perkara mengalahkan diri sendiri. Masak iya saya sudah jauh-jauh ke sini, dibelain cuti, trus saya cuma mau nungguin di punggung bukit aja gitu. Nungguin cerita dari Dhanu dan Allaq tentang kawah ijen. Saya menarik nafas panjang. Matahari sudah mulai naik pelan-pelan. Gelap berganti selorong cahaya matahari. Pertanda kami gak akan bisa dapet momen Sunrise di Puncak Ijen. Saya mulai menangis lagi. Makin merasa bersalah. Gara-gara saya lambat, Dhanu dan Allaq terancam gak bisa liat sunrise. Tapi mereka gak protes. Belum saya melangkah, Dhanu sudah mendorong saya lagi dan Allaq menggamit tangan saya, menarik untuk berjalan. Mereka cuma bilang, “yuk!” . Oke, saya bisa!🙂

Berhenti Sejenak

Berjalan diantara dua lembah

Masuk ke 2 km, jalanan mulai ramah. Jalanan menanjak berubah menjadi jalanan mendatar, jalanan menyempit, sebelah kanan kami jurang. dan lembah yang kami lihat, subhanallah indah betuul… Matahari mulai naik lagi. Kami mulai bisa melihat awan dibawah kami🙂 beberapa kali kami berpapasan dengan pengambil belerang. Wilayah ijen memang dikenal masih banyak pekerja penambang Belerang. Mereka biasa memanggul keranjang yang akan diisi belerang, bobotnya pun bisa mencapai 70-100 kg. Gile. Saya yang gak bawa apa2 aja gak kuat jalan. Mereka kuat betul yak. Mendekati puncak, ternyata ada satu rumah intransit khusus untuk pekerja menimbang belerang dan mengumpulkannya sementara disana. Kami mulai bertemu para pendaki lagi. Which is almost 80% nya adalah bule. hmm.. menarik bukan. Indonesia kita cukup indah kawan😉

Pos Terakhir sebelum puncak Ijen

Above the sky

Puncak kawah ijen mulai terlihat, untuk mencapainya, beberapa ratus meter terakhir, kami harus melewati jalan berpasir diantara dua lembah. Yang menarik adalah… Anginnya cukup kuat untuk melewati jalan ini. Angin lembah. Angin yang mengarah dari lembah ini entah berapa knot kecepatannya. Rasanya kayak mau mati ditembak angin. *lebai*. daaaan… sampailah kami di kawah Ijen… Subhanallah…

Kawah Ijen

Bule Bule dan Bule😀

Akhirnya bisa foto bertiga juga, setelah salah minta tolong orang buat motoin, kirain orang lokal trnyata bule Thailand :-p

Puas menikmati Ijen, kami memutuskan bergegas turun. Khawatir matahari meninggi dan cuaca jadi panas. Di perjalanan Pulang, ternyata para pekerja penambang belerang menawarkan beberapa souvenir, belerang yang mereka punya dibentuk aneka rupa, ada kura-kura, kepiting, sapi, atau bunga. Harganya? terserah si pembeli katanya. Saya bahkan menawar 5.000/3 hehehehe🙂 Jalanan turunan ternyata jauh tidak bersahabat. Fully pasir dan licin. beberapa kali saya terpeleset. Kata Dhanu, ketika kita tracking naik, jantung dan paru-paru kita yang bekerja, menyeseuaikan suhu dan oksigen yang ada, makannya ngos2an. Tapi ketika turun, kaki kita yang bekerja, karena harus menahan beban tubuh ketika jalanan menurun dan menahan supaya tidak terpeleset. Hampir tiap dua langkah saya terpeleset. Sampai akhirnya Dhanu bilang, “kalo mau turun, gak usah ditahan, di loskan saja fi.. selain lebih cepat, potensi terpeleset juga kecil.” saya melengos, mengelap lutut saya yang sudah beberapa kali jatuh. “masak sih Nu, kan ngeri kalo jalan cepat, licin” , sanggah saya. “yah, dicoba saja” katanya. Ehh.. ternyata beneran lhooh. Ketika kita sudah memasrahkan tubuh, mengikuti gravitasi bumi, menyilahkan kaki untuk mengikuti langkah, jalan kita seperti tidak ada hambatan. Terpeleset mungkin masih, tapi sudah tidak sesering sebelumnya, dan tentu terasa lebih ringan membawa tubuh. HHm.. ini mirip kayak di film Batman. hehehe, ketika si Bruce Wayne gagal berulang kali meloloskan diri saat melompat di Black Gate, tau apa masalahnya? yap, karena dia masih menggunakan tali. Artinya dia tidak yakin dengan lompatannya sendiri, dia masih bergantung pada si tali “taku-takut” “jaga-jaga” kalo jatuh. Ketakutan akan jatuh itulah yang justru membuatnya jatuh lagi dan jatuh lagi. Tapi apa yang terjadi ketika dia melepaskan tali itu dan memutuskan untuk lompat tanpa tali? yap, dia bisa. dia sukses keluar dari black gate hanya dengan satu kunci lompatan. Yakin, dan tidak bergantung pada tali. Mungkin mirip2 itu kali ya ketika saya turun dari Ijen. Ah, saya jadi meloow.. hihihi😆

Perjalanan turun gunung :-p

Sampai lagi di Pos Ijen. Ketika malam kawasan ini gak kliatan apa2😐 gelap.

Well, dari Ijen, kami masih meneruskan perjalanan ke Bromo, Pekalen dan Madakaripura. hehehe, see u in the next Post Ya. Cus!

3 thoughts on “Tracking To Ijen Crater

  1. Pingback: Rafting Sungai Pekalen, Probolinggo « [theklek]

  2. Pingback: Bromo « [theklek]

  3. untung sungguh kamu berkawan dengan dhanu dan alloq….saling berkerjasama walaupun dfalam kesusahan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s