Trip Sumatera Barat (2) – Lembah Harau Nan Memukau

Melanjutkan cerita trip hari pertama di Sumatera Barat sebelumnya…

Hari 2- Padang|Payakumbuh|BukitTinggi

Kelar trip Pulau Pagang hari pertama, sepulang dari Bungus kami langsung ke rumah salah seorang temannya teman (sebut saja namanya Deff, karena memang demikian nama panggilannya😆 ). Deff ini temannya Budi dan Allaq, kebetulan si Deff lagi mudik ke Jawa, jadilah rumahnya yang berada di salah satu komplek perumahan dinas, kami kuasai sepenuhnya😆 . Untuk ukuran bujang, rumah ini cukup besar. Ada garasi, Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, 3 kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar pembantu, plus masih ada halaman samping dan depan. Luar Biasaaaa. Kami kegirangan bisa tinggal gratis di sini.😆 masuk rumah, gulung2!!!! :p

Komplek Perumahan yang kami tinggali

Komplek Perumahan yang kami tinggali

Pagi-pagi, kami bersiap sedari pagi. Hari kedua rencana kami langsung ke BukitTinggi. Rutenya sih ke Payakumbuh dulu, lalu ke lembah Harau, trus lanjut ke BukitTinggi. di Bukittinggi sendiri selain ke Jam Gadang, kami penasaran sama ngarai Sihanok, Goa Jepang daaan dureeeeen!! dan tentu pengen tahu suasana kotanya. Denger2 di dua kota tersebut memiliki para gadis nan cakep2. ah, itu sih kata yang cowok2 ya…. padahal saya dan Dita juga cakep2 kok, gak usah jauh2 ke Bukittinggi lah .

Perjalanan Padang-Payakumbuh cukup jauh ternyata. Sepanjang jalan selain ngakak-ngakak, kami tidur, bangun, nyamil, tidur lagi, ngakak lagi, nyamil lagi. Gituuuuuu aja ampe nyampe. Untungnya sih gak kehabisan bahan celaan kita. Lha wong yang dicela ada disini kok *nunjuk diri sendiri*😐 oia, pas ke Payakumbuh, kami ngleawtin lembah Anai. itu tuh, yang air terjun di pinggir jalan. Lumayan lah. Cukup menarik. Aneh aja gitu, di pinggir jalan banget cuy! kenapa gak dibikin jalannya muter dulu kek biar ni tempat ada space. ah, tapi mungkin di situ menariknya ya.🙂 selang beberapa kilometer kami ketemu jembatan rel tua. Sontak kami minta Mas Robi, driver, untuk berhenti sebentar. Dasar kami gatel motret2 yang aneh2. Jembatan ini cukup unik, ada 2 lengkungan besar melewati atas jalan. Ternyata jembatan semacam ini cukup banyak ditemui di Sumatera Barat. Beberapa masih dipakai untuk kereta wisata “mak Item” katanya.

Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai

Jembatan Tua

Jembatan Tua

Okey, lanjut menjelang siang, mulai masuk ke Payakumbuh. Perut sudah krucuk-krucuk, secara pagi kami ndak sarapan. Di mobil cuma nyamil Martabak Kubang semalam (yang sumpah enak betuuuul). Agak kasian aja sama si Budi, secara badan dia paling kecil diantara kami, tapi paling banyak makan dan paling cepet laper. Jadinya sepanjang jalan, kami cuman bisa nyodori Budi camilan dan kami ajak becanda biar lupa lapar. Untunglah dia gak sampe nyamil bantalan kursi mobil.😆 Kami berhenti di salah satu warung Padang. Oia, FYI sejak menginjakan kaki di Padang, kami belum pernah menemui makanan tidak bersantan. Termasuk makan siang kali ini. Buat saya penggemar masakan pedas, ini menyenangkan! hihihihi.

Kelar makan, kami cepat2 menuju Lembah Harau. Takut kesiangan. daaaan… masuklah kami ke gerbang Lembah Harau. Sepanjang jalan, mata kami dimanjakan hamparan sawah nan hijau. Subhanallah… baguuuuuss… aaaah bener2 daaaah… mata seger!!!

Lembah Harau

Lembah Harau

Jalan Masuk Lembah Harau

Jalan Masuk Lembah Harau

Gagahnya Lembah Harau

Gagahnya Lembah Harau

Ademnya Lembah Harau

Ademnya Lembah Harau

Harau tuh artinya apa ya?

Harau tuh artinya apa ya?

Puas memanjakan mata di Lembah Harau, kami nggak buang waktu ke Bukittinggi. Karena jaraknya cukup jauh dari Padang, rencananya kami mau menginap semalam di Bukittinggi, dan.. kami belum cari penginapan. Makanya buru2 berangkat. Atas rekomendasi teman, kami memutuskan searching penginapan di sekitar jam Gadang. Kabarnya di situ banyak banget penginapan2 yang cukup terjangkau, kisaran 200ribu semalam juga ada. Memasuki kawasan Bukittinggi sejuknya mulai terasa. Dari namanya saja ketahuan, kota ini ada diatas bukit. di Kota inilah Mohamad Hatta diasingkan pas jaman Belanda (atau Jepang ya?), makanya di depan jam Gadang berdiri museum Mohammad Hatta. Sayangnya kabarnya Museum tersebut ditutup untuk umum, mungkin bisa dikunjungi dengan mengkonfirmasi terlebih dahulu. Bukittinggi ini semacam Bandung-nya Jakarta. Adem, berbukit2, jalan kecil2, jalan searahnya banyak daaan.. macet kalo pas ramai. Yak! kami baru nyadar, pas kami nyampe sana, adalah pas waktunya gaul nasional alias pas Malam Minggu! rame-rame-rame! melewati jam gadang, ebuset ini tempat udah buanyak banget orang. Ah, tapi kami masih punya waktu ampe besok. hihihi. sante lah. sante.

Berbelok tepat di sebrang Istana Bung Hatta inilah, penginapan kami berada. Yaiy! ternyata masih tersedia kamar kosong dan harganya masih masuk budget. Nama Penginapanya Ambun Suri. Untuk kamar standar kena 200.000/malam. Kami pesan dua kamar. Cukup nyaman lah. apalagi kami dapat kamar dengan view bukit yang dibawahnya terdapat ngarai sianok. Mantap!

Karena ini di Padang, waktu Sholat jadi lebih mundur dari Jawa. Sore itu selesai check in, kami gak buang2 waktu. Langsung kami cus ke Ngarai Sianok yang ternyata cuma berjarak 500 meter dari penginapan kami. Yaiiy!! Untuk masuk ke kawasan taman yang merupakan titik view paling pas dikenakan biaya Rp. 4000,- / orang , tapi kalo mau ngliat ngarainya sendiri, dari pinggir jalan juga bisa. Atau mencoba turun ke bawah bukit untuk ngliat dari bawah. Enaknya ada driver lokal tuh gini nih, si Mas Robi tau banget kami musti kemana-kemana buat bisa ngebandingin view mana yang paling oke buat menikmati Ngarai Sianok. Diajaklah kami turun ke bawah, di mana bisa ngliat Ngarai dengan jelas di pinggir sungai yang mengalir di bawah Ngarai. Sayangnya, sungainya agak kotor, dan kebetulan pas ada aksi mobil-mobil trail gitu… keren sih, pemandangan Ngarai nya juga oke, cuman sayang aja sungainya agak kotor. hehehe. Lanjut kami ke atas, melewati Goa Jepang yang nembus ke bukit di atas. Berhubung Goa ini ditutup jam 6 sore untuk pengunjung karena kabarnya kalo malam Horor. ya… maklumlah, Goa ini dulunya dipake buat pembantaian Pasukan Jepang terhadap penduduk pribumi. serem juga ya. hiiiiiy. Urunglah kami masuk ke sana, dan memutuskan untuk masuk ke kawasan taman di atas untuk ngliat view Ngarai Sianok dengan sempurna (katanya). wew! mantap!!

Ngarai Sianok dari bawah

Ngarai Sianok dari bawah

Pintu Masuk Goa Jepang

Pintu Masuk Goa Jepang

IMG_20130310_173035

Ngarai Sianok dari atas

IMG_20130310_173124

Sisi lain Ngarai Sianok

Menjelang gelap, kami buru-buru keluar kawasan taman. eeeh diluar ada sesuatu yang menarik mata kami. hihihi apalagi kalo bukan duren!

Es duren apa? Selingkuh?? :lol: (silakan bagi yang merasa)

Es duren apa? Selingkuh??😆 (silakan bagi yang merasa)

Kelar makan es duren yang ajiib seharga Rp. 10.000,-/mangkok, kami gak melewatkan waktu senja di Jam Gadang. Yeaaah, jadi Anak Gaul Bukittinggi gitu ceritanya. Meskipun sudah hampir gelap, tapi ini tempat masih ramai dengan anak-anak muda atau anak-anak kecil yang diantar orang tuanya. Sekedar duduk-duduk melewati sore di Bukittinggi. Ada satu hal yang menarik perhatian. Yak! ada tukang camilan yang ndak kami temukan di Jawa. Jiwa kulinerisme dan penasaran kami tergugah. Cepat kami cari ibu-ibu penjual cemilan aneh itu. EEE… yaaa ini dia cemilan aneeeh.. hihihihi. Ternyata setelah di dekati, ibu-ibu ini jualan pake semcam gerobak pasir roda tiga, diatasnya berjejer kerupuk lebar nan tinggi, plus dua panci kuah semacam kuah rendang dan satu panci isinya kerang. slruuup, penasaran kami asal aja beli. hihihi, “Uni, pesen kayak si uda itu Uni. Ciek ya!” duuileeeee kami sudah gaya betul sok-sok berbahasa Padang😆

Camilan Karupuak Jam Gadang

Camilan Karupuak Jam Gadang

Nyamil di Jam Gadang *duilleeeh eksis!*

Nyamil di Jam Gadang *duilleeeh eksis!*

Kelar begaul di Jam Gadang, kami pulang. Sholat Magrib dan Mandi. lalu istirahat? tentu tidak! waktunya mengaplikasikan paham kulinerisme kami! nyahahahahah! Makan malam jatuh pada makanan Padang lagi (yaiyalah.. menurut L?) tapi kali ini kami mau tau apasih yang namanya Kapau tuh (itu tuh yang kalo di Jakarta, banyak banget warung Nasi Kapau di Pinggir jalan Kramat, tapi belum pernah satu kalipun saya nyoba😆 ). Owalah, ternyata kapau itu semacam tahu dan telur di kukus dalam balutan kulit dadar telur terus di gulai. Namanya sih Gulai Kapau. Oh, rasanya gak jauh2 beda kok sama gulai-gulai Padang yang lain😆 pulang makan malam, kami dapat bocoran Duren enak dan murah di Pasar Bawah Bukittinggi! yak, rangers meluncur!!!

Duren Bukittinggi

Duren Bukittinggi

Dapat harga Rp. 30.000/buah. Secara ya jeung, durennya gede2 dan dagingnya lembut. Manisnya tuh lumer di mulut. huwaduuh… hmmm buanget pokoknya. Saya yang sudah lama gak makan duren, cuman kuat makan tiga biji, secara masih takut juga sama hasil MCU dimana kadar trigliserida saya cukup tinggi. Jadilah Dhanu dan Budi yang (ajegile) kuat banget ngabisin duren segitu banyak! mabok-mabok deh tu bedua!😆

Hihihihi, Alhamdulillah. Sudah kenyang, waktunya pulang ke penginapan! lanjut di trip hari ketiga ya😉

-to be continued-

One thought on “Trip Sumatera Barat (2) – Lembah Harau Nan Memukau

  1. Pingback: Trip Sumatera Barat (3) – GalauGalau ke Danau | [theklek]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s