Dongeng Bapak

Dongeng pertama yang saya dengar dan saya ingat adalah dongeng Bapak saya menjelang tidur. Dulu waktu kecil, setiap kali saya rada rewel jelang tidur, ibu yang sudah duluan menyerah menidurkan saya menyerahkan tugas rutin ini ke Bapak.😀 berdampingan dengan adek saya di tempat tidur Bapak lalu mulai bercerita. Yang bikin saya selalu ingat dongeng Bapak adalah karena beliua selalu mengarang dongengnya sendiri. Bukan macam dongeng Timun Mas, atau Dongeng Roro Jonggrang, tapi betul-betul cerita dan tokoh yang terkadang gak masuk akal. Saya dan Adek saya bahkan lalu saling menebak lanjutan dan akhir ceritanya.

Kenapa saya tiba-tiba jadi cerita dongeng? hehehe, ini gara-gara acara Kartinian kemarin di Kantor. Ada sharing session yang menghadirkan salah satu pembicaranya seorang direktur Keuangan di salah satu perusahaan besar Indonesia yang kebetulan wanita. Ditanya apa tips supaya tanggung jawab sebagai seorang ibu tetap dipenuhi, Pembicara tersebut menjawab santai, “saya suka mendongeng pada anak-anak saya menjelang tidur. Dongeng yang seringkali saya karang sendiri”. Pembicara lain yang tak lain adalah seorang psikolog mengiyakan cara si Ibu direktur tadi. Bahwa mendongeng selain bisa mengajarkan anak dari kisah dongeng itu sendiri, juga meningkatkan kreatifitas dan tentu mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak.

Maka kemudian saya jadi teringat hobi Bapak saya yang suka mendongeng. Dongeng yang paling saya ingat adalah kisah tentang anak gajah yang terperangkap di sumur belakang rumah kami. Hehehe. Jadi di rumah saya yang dulu, ada sumur di belakang rumah, sumurnya cukup dalam dan gelap. Dulu kalo saya lagi dimandiin di situ saya suka ngintip-ngintip tu sumur, tak jarang Ibu saya ngomel karena takut anaknya yang cantik ini jatuh ke situ, hihihihi😆 Entah mungkin ada konspirasi antara Ibu dan Bapak supaya saya ndak lagi ngintip2 tu sumur, yang pasti kisah itu lalu jadi dongeng favorit saya. Dongeng itu dikisahkan dalam bahasa jawa oleh Bapak. Didengarkan oleh saya dan adek berdua, yang jelas saya ndak sampe tamat ndengerinnya. Entah lupa atau sudah tidur, tapi saya ndak pernah ingat dongeng itu tamatnya gimana. Kisahnya kurang lebih seperti ini :

Alkisah ada sumur gelap di belakang rumah, ada anak gajah tersesat terpisah dari Induknya karena ngeyel dikasih tahu si Ibu Gajah. Anak gajah ndak mau disuruh ngaji. Maunya maen air melulu. Sudah dilarang maen air supaya ndak pilek, si anak gajah masih ngeyel. anak gajah lalu malah maen air di deket sumur itu. Terpeleset dia karena ndak ndengerin ibunya. Badannya besar, jadi tersangkut di tengah sumur. Mau teriak gak ada yang dengar. – sampai di sini saya masih ingat, saya bertanya, “Gajah nya abu-abu atau warna pink Pak?😆 – Warnanya abu-abu karena gak suka mandi, sukanya main air aja. Terus, si Gajah nangis-nangis di sumur, huhuhuhuhuu, tapi ndak ada yang ndenger. dia laper. dia haus. Nangis aja. gara-gara dia ngeyel dikasih tau Ibunya.

Yak, sampe di situ saya lupa lanjutannya apa. Yang jelas, sejak dongeng itu saya percaya di sumur belakang rumah saya ada gajahnya, hihihihi. Luar biasa ya kekuatan dongeng itu. Secara otak anak kecil itu bak spon yang nyerep apapun yang di dengarnya. Sedih rasanya kalo liat anak-anak jaman sekarang yang lebih doyan di depan tv ketimbang beraktivitas lain bersama orang-tua atau teman-temannya. Jika dongeng gajah di sumur begitu melekat di otak saya, apa jadinya kalo anak-anak di dongengin kisah-kisah Nabi, atau di ajarin Al Qur`an. widiiih… subhanallah sekali mungkin ya🙂

Ah, jadi kangen Bapak. hihihihi😆

2 thoughts on “Dongeng Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s